Situs Terpercaya Kabar Harian

Kota Bandung Belum Maksimal Dalam Mengelola Sampah

Bandung, (KHO) - Masih banyaknya sampah yang menumpuk di sudut-sudut Kota Bandung. Seperti Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang ada di Jalan Bahjaksa RT 01/01 Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung.

Kondisinya sangat memrpihatinkan, apalagi dekat jalan raya sampah yang menumpukpun tak jarah berceceran ke jalan raya.

Pengelolaan sampah yang belum maksimal juga di ungkapkan oleh Kepala Seksi Kebersihan Kecamatan Cibiru, Syamsudin, saat ditemui di lokai. Dia menuturkan, untuk saat ini belum ada pengelolaan sampah yang khusus seperti pengeposan yang dilakukan oleh pihak kebersihan.

Selain itu masih kurangnya Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang tidak memadai untuk menampung sampah dari 58 RW di Kecamatan Cibiru pun menjadi kendala utama. “Walaupun tidak semua masyarakat membuang sampah ke TPS ini”. ujarnya.

Selain itu, pengontrolan secara rutin oleh Dinas Kebersihan seharusnya dilakukan agar dapat melihat secara langsung kondisi TPS. Sehingga ada solusi untuk penanganan sampah supaya tidak terjadi penumpukan.

“Ya, setiap hari mengontrol ke TPS dan penyapuan di jalan-jalan, jangan sampai sampah menumpuk di jalanan,” lanjutnya. Warga Kecamatan Cibiru berinisiatif untuk membuat TPS, hal ini dikarenakan kurangnya perhatian pemerintah terhadap TPS.

Pasalnya, tempat yang yang digunakan untuk TPS ini kurang layak untuk menampung sampah per hari yang mencapai 6-8 ton sampah per hari. “TPS ini sudah tiga tahun, awalnya warga sekitar membuang sampah kemana saja, ide masyarakat untuk membuat TPS disini,” ungkap Iis, salah satu pemulung sampah.
Share:

Gempa 5,3 SR Guncang Tasikmalaya

Bandung, (KHO) - Gempa bumi kembali mengguncang Indonesiaa, gempa bumi berkekuatan 5,3 Skala Richter (SR) mengguncang kawasan Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (18/5) dini hari tadi.

Melansir dari situs Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa gempa terjadi sekitar pukul 04.08 WIB waktu setempat. Menurut BMKG Gempa bumi ini tak berpotensi adanya tsunami.

Pusat gempa berada di 0.15 LS dan 107.57 BT, tepatnya di 284 kilometer sebelah barat daya Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Ada pun pusat gempa tersebut berada pada kedalaman 10 kilometer.

Belum diketahui adanya korban luka atau kerusakan yang terjadi dalam peristiwa ini.
Share:

Kek Sutan, Langkahmu Ladang Amal

Riuh suara angin membawa aroma khas jalanan yang menyesakkan. Diantara bangunan yang menjulang tinggi, deretan kendaraan tak beraturan memenuhi ruas jalan searah di pusat Kota Bandung.

Kala itu, orang-orang melangkahkan kaki lebih cepat dari biasanya, rupanya mereka tak ingin menikmati awan mendung di langit sore. Berbeda dengan sosok pria paruh baya yang memilih untuk diam, raut wajahnya begitu sendu, namun senyum ramahnya tak pernah disembunyikan dari siapapun yang ada di hadapannya.

Berbekal tas ransel berwarna biru dengan sobekan benang hampir di setiap sisi, ia memegang erat buku-buku kecil berukuran 10x15 cm. Buku bersampul ungu, bergambar tiga orang lelaki dengan tiga gaya berbeda, sungguh tak asing lagi. Risalah Tuntunan Shalat Lengkap, itulah beberapa kata yang tertera di halaman depan buku tersebut.

Inilah sosok Kakek Sutan, yang sehari-hari bekerja sebagai penjual buku keliling di Kota Bandung. Kakek Sutan adalah ayah dari empat orang anak dan saat ini berusia 70 tahun. Sang istri sebagai Ibu Rumah Tangga, mengisi kesehariannya dengan menghadiri pengajian di lingkungan tempat tinggalnya. Kek Sutan, begitulah orang-orang memanggil kakek asal Belitong ini. Sejak 1958, Kek Sutan telah meninggalkan tanah kelahirannya untuk merantau ke luar pulau.

Menghidupi istri dan keempat orang anaknya, Kek Sutan melakoni pekerjaan ini sejak enam belas tahun silam. Sebelumnya, Kek Sutan sempat bekerja sebagai penjual aksesoris di Papua, hingga menjual pakaian sebelum konveksi tempatnya mengambil barang dagangan mengalami bangkrut. Sampai akhirnya Kek Sutan menikmati pekerjaannya sebagai penjual buku keliling di Kota Bandung.

Usianya memang tak lagi muda, namun Kek Sutan rela bekerja bukan hanya demi mencukupi kebutuhan keluarganya, namun ada sebuah alasan yang sangat sederhana dan bermakna. Bagi Kek Sutan, pekerjaannya adalah salah satu cara dirinya mengingatkan kebaikan kepada orang lain khususnya mereka yang muslim.

Menjual buku Tuntunan Shalat adalah ajakan halusnya agar muslim tidak pernah melupakan dan meninggalkan parameter utama dalam hidup. Tanpa melakukan shalat, perbuatan baik sebanyak apapun sepertinya akan percuma. Sebaliknya, jika muslim menunaikan shalatnya, sekecil apapun perbuatan baik akan dihitung dan memiliki pengaruh yang besar. Pesan inilah yang ingin disampaikan oleh Kek Sutan melalui buku yang dijajakannya. Buku yang dijualnya pun tidak akan mengalami kadaluarsa, sehingga ia menjual sesuatu yang sangat bermanfaat dan akan selalu dicari oleh banyak orang karena bagi Kek Sutan setiap hari akan lahir generasi-generasi yang harus mendalami kepercayaannya.

Buku Tuntunan Shalat yang dijajakannya ia peroleh dari salah satu pasar buku di Kota Bandung. Tak jarang, ia menerima beberapa titipan buku yang dipesan oleh orang-orang melalui dirinya, salah satunya Al-Qur’an. Walaupun penghasilannya tidak menentu, Kek Sutan tak pernah mengeluh, semua tentang rasa syukur atas kesehatan, rezeki, dan keselamatan yang diberikan Tuhan kepada ia dan keluarganya.

Kek Sutan bekerja sebagai penjual buku keliling di beberapa tempat di Kota Bandung. Setiap pagi pukul 06.00 WIB Kek Sutan berangkat dari rumahnya di daerah Buah Batu menuju Cihampelas untuk menjajakan buku Tuntunan Shalat. Perjalanannya dilanjutkan menuju daerah Balubur dan Jalan Merdeka dengan berjalan kaki. “Jam 06.00 pagi saya pergi dari rumah, nanti jam 17.00 WIB baru saya pulang. Saya pergi pagi biar ngasih contoh juga sama orang-orang di daerah rumah saya, disana banyak anak muda masih betah di rumah jadi pengangguran” tutur Kek Sutan ketika ditemui di depan Bandung Indah Palza (BIP), Jalan Merdeka Bandung.

Hanya dengan Rp 10.000, harga yang ditawarkan oleh Kek Sutan untuk satu bukunya. Walaupun pekerjaannya tak sebanding dengan upah yang diterimanya, Kek Sutan ikhlas dan pantang menyerah melakoni pekerjaan ini. Dengan penghasilan yang tak seberapa, Kek Sutan berhasil mengantarkan keempat orang anaknya untuk memperoleh gelar Strata-1 dengan bidang keilmuan yang berbeda, diantaranya farmasi, analis kimia, teknik sipil, dan arsitektur. Saat ini keempat anaknya tidak tinggal bersamanya, mereka tinggal di kota yang berbeda yaitu Cikarang, Banten, Sukabumi, dan Madiun.

Walaupun pendidikan Kek Sutan tak setinggi keempat anaknya, namun pengetahuan dan pengalaman Kek Sutan sangatlah luar biasa. Kek Sutan memiliki kebiasaan membaca buku sejak kecil, terutama mengenai filsafat. Hingga ia sangat paham ajaran beberapa Filsuf seperti Socrates, Aristoteles, dan Thales. Dulu, setiap harinya Kek Sutan selalu diberikan buku oleh Ayahnya dan hal itu dilakukan secara terus menerus hingga membaca seolah menjadi kebutuhannya. Kebiasaan baik yang ia peroleh dari Ayahnya, ia terapkan kepada anak-anaknya saat ini. “Kalo main kerumah anak saya, kita gak bisa masuk, soalnya yang kita injak itu buku semua hehehehe,”ujar Kek Sutan dengan senyum ramahnya.

Prinsip hidup Kek Sutan tak pernah lepas dari nilai keagamaan. Kata ‘antusiasme’ yang memiliki arti semangat seolah menjadi motto hidup. Bahkan Kek Sutan mampu menjelaskan secara fasih asal mula kata ‘antusiasme’ menurut Socrates yaitu dari bahasa Yunani “en” dan “theos” yang berarti ‘di dalam’ dan ‘Tuhan’. Menurut Kek Sutan, “Jika aku bersama Tuhan, siapa yang bisa mengalahkan aku. All our activity, The God always with us. Tuhan selalu ada bersama kita jadi kita jangan pernah takut sendiri, kita not alone,” ungkap Kek Sutan dengan penuh semangat.

Panta Rei adalah sebuah filosofi dari Heraclitus yang masih lekat dalam ingatan Kek Sutan, memiliki arti “semuanya mengalir”. Bagi Kek Sutan, kehidupan ini layaknya air yang mengalir di sungai, hal yang dipertahankan pun bisa saja berlalu, tidak ada yang kekal dan abadi kecuali Tuhan. Manusia tidak pernah dilarang untuk mempunyai rencana, tetapi manusia harus menerima bahwa Tuhan yang menentukan.

Prinsip inilah yang menjadi salah satu motivasi Kek Sutan sampai dengan hari ini. Keikhlasan, ketulusan, dan kemuliaan pekerjaannya mengalir begitu saja, tanpa sedikitpun melupakan Tuhan. “Jangan munculkan saya di media ya saya sudah nyaman sekali dengan kehidupan seperti ini,” tandasnya mengakhiri perbicangan sore sendu dengan titik air yang mulai berjatuhan. Tak lama berselang, Kek Sutan mengakhiri pekerjaannya hari itu, dengan langkah kaki berayun ia menyusuri trotoar Jalan Merdeka Bandung sambil memegang erat buku yang tersisa. Secercah harapan ia rangkai untuk esok hari, melangkahkan kaki kembali untuk menjemput rezeki.
Share:

Jarang Tuhan Ciptakan Orang Seperti Dia

"Polisi jangan sampai menjadi momok bagi masyarakat"

Jendral Polisi Hoegeng Iman Santoso. (buku Museum Polri 2009).

Drs. Hoegeng Imam Santoso merupakan putra sulung dari pasangan Soekario Kario Hatmodjo dan Oemi Kalsoem. Lahir pada 14 Oktober 1921 di Kota Pekalongan. Meskipun berasal dari keluarga priayi, namun perilaku Hoegeng kecil sama sekali tidak menunjukkan keangkuhan. Bahkan ia banyak bergaul dengan anak-anak dari lingkungan biasa. Hoegeng sama sekali tidak pernah mempermasalahkan ningrat atau tidaknya seseorang dalam bergaul.

Dalam perjalanannya Hoegeng dikenal sosok yang jujur dan amanah. Ia dianggap orang yang paling jujur diantara pejabat tinggi di pemerintahan saat itu. Tidak pernah memiliki rumah tetap memperlihatkan sisi kesederhanaannya, walaupun ia memegang salah satu jabatan tinggi di pemerintahan. Keteladanan Hoegeng bukan hanya menjadi sosok yang dikagumi saat ini, namun menjadi cerminan diri bagi institusi yang dulu pernah Hoegeng singgahi.

Mendapat amanah menjabat diberbagai instansi tak lantas menjadikan Hoegeng berbalik memanfaatkan statusnya dalam jabatan tersebut. Memasuki masa pensiun Hoegeng menghabiskan waktu dengan menekuni hobinya sejak remaja, yakni bermain musik Hawaiian-alat musik khas Maluku- dan melukis. Lukisan itu lah yang kemudian menjadi sumber kehidupan keluarganya. Jauh sebelum itu beberapa jabatan yang di sandang Hoegeng seperti tahun 1950, setelah Hoegeng mengikuti Kursus Orientasi di Provost Marshal General School pada Military Police School Port Gordon, George, Amerika Serikat. Disitulah, Hoegeng mulai dipercaya untuk menduduki jabatan penting di dalam sebuah intitusi.

Menjabat Kepala DPKN (Dinas Pengawasan Keamanan Negara) Kantor Polisi Jawa Timur di Surabaya 1952. Menjadi Kepala Bagian Reserse Kriminal Kantor Polisi Sumatera Utara 1956 di Medan. Tahun 1959, mengikuti pendidikan Pendidikan Brimob dan menjadi seorang Staf Direktorat II Mabes Kepolisian Negara 1960, Kepala Jawatan Imigrasi 1960, Menteri Iuran Negara 1965, dan menjadi Menteri Sekretaris Kabinet Inti tahun 1966. Setelah Hoegeng pindah ke Markas Kepolisian Negara kariernya terus menanjak. Di situ, dia menjabat Deputi Operasi Pangak tahun 1966, dan Deputi Men/Pangak Urusan Operasi ditahun yang sama.

Hoegeng tidak menjadikannya sebagai aji mumpung meskipun telah menjadi pemimpin dan pejabat negara. Dia tidak memanfaatkan jabatannya untuk memberi surat izin bagi putranya menjadi taruna ABRI ketika itu, atau kemudahan bagi putrinya untuk sekadar lolos di Perguruan Tinggi Negeri dengan fasilitas jabatannya. Hingga wafatnya pada 14 Juli 2004, Hoegeng tidak memiliki rekening gendut. Ia hanya memiliki uang pensiun. Seperti yang dilansir Kompasiana.com pensiunan Hoegeng hingga 2001 hanya sebesar Rp.10.000 saja, itu pun hanya diterima sebesar Rp.7500! Selanjutnya menurut pengakuan putranya Aditya, di acara Kick Andy, pada 2001 gaji pensiunan Hoegeng menjadi Rp.1.170.000, jauh berbeda dengan gaji pensiuan pejabat saat ini.

Sang istri, Meriyati Roeslani (Meri), memiliki pengertian yang luar biasa akan prinsip hidup suaminya. Saat Hoegeng menjabat sebagai Kapolri, ia tak mengizinkan istrinya menjadi Ketua Umum Bhayangkari, yang biasa dijabat istri Kapolri.

Hoegeng berkata kepada istrinya, "Hoegeng ini komandan polisi di Indonesia, tetapi Meri bukan komandan dari istri-istri para polisi," (Polisi dan Menteri Teladan:91). Selain itu anak kedua Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng, tak pernah merasakan fasilitas negara (Polisi dan Menteri Teladan:72). “Bahkan anak-anak tak berani untuk meminta sebuah sepeda pun” kata Merry di Acara Kick Andy.

Kecintaan dan dedikasinya terhadap pekerjaan menempa dirinya menjadi seorang pelayan masyarakat yang tanpa pamrih. Dalam menegakkan hukum hampir tidak memiliki hambatan persolan apapun berupa harapan kenaikan jabatan, kekayaan, maupun kemahsyuran.


Jabatan Tak Membuat Ia ‘Tegak’

Akhirnya Hoegeng diberi amanah menjadi Pangak kelima. Ia tak berubah. Tegas, disiplin, jujur dan sederhana. Ia bertekad membabat rumput-rumput liar yang mengotori negara. Banyak hal yang dilakukan Hoegeng selama ia menjabat sebagai Pangak-sebutan Kapolri saat itu- dari 1968-1971. Seperti dikutip dari buku Museum Polri 2009, Hoegeng melakukan pembenahan beberapa bidang yang menyangkut struktur organisasi di tingkat Mabes Polri. Hasilnya, struktur yang baru terkesan lebih dinamis dan komunikatif.

Selama kepemimpinan Hoegeng, banyak hal terjadi dalam tubuh internal Kepolisian Republik Indonesia. Langkah pertamanya adalah pembenahan beberapa bidang yang menyangkut struktur organisasi. Hasilnya, struktur baru yang lebih dinamis dan komunikatif. Langkah kedua, perubahan nama pimpinan polisi dan markas besarnya. Sebutan AKRI (Angkatan Kepolisian Republik Indonesia) diubah menjadi Polri (Kepolisian Negara Republik Indonesia). Selain itu sebutan Pangak (Panglima Angkatan Kepolisian RI) diubah menjadi Kapolri (Kepala Kepolisian RI) dan nama Markas Besar Angkatan Kepolisian pun berubah menjadi Markas Besar Kepolisian. Di bawah kepemimpinan Hoegeng peran serta Polri dalam peta organisasi Polisi Internasional, ICPO (International Criminal Police Organization), semakin aktif. Hal itu ditandai dengan dibukanya Sekretariat NCB (National Central Bureau) Interpol di Jakarta.

Perjalanan ‘sang maestro’ teladan lantas tak semudah air dalam sekat ruang kosong. Berbagai permasalahan datang menerpa keteguhan Hoegeng didalam karirnya. Berbagai spekulasi bertebaran atas segala perilaku dan keputusan yang diambil Hoegeng saat itu. Seperti dikutip dari socio-politica.com, adanya peristiwa 6 Oktober 1970. Dalam Peristiwa 6 Oktober 1970, polisi salah menyeret terdakwa pembunuh. Bripda Djani Maman Surjaman dijadikan kambing hitam, diadili dan dihukum penjara. Ahli forensik dan balistik memastikan Rene tertembak dengan senjata laras pendek, sedangkan Djani memegang senjata laras panjang Karl Gustav saat bertugas melerai pengeroyokan Rene oleh Taruna Akabri Kepolisian yang akan segera lulus sebagai Angkatan 1970.

Ketika peristiwa terjadi, yang diketahui membawa pistol (senjata laras pendek) hanyalah para Taruna. Para Taruna yang terlibat –beberapa adalah putera perwira tinggi polisi– tak berhasil diajukan ke mahkamah militer di masa Hoegeng. Sementara dalam kasus pemerkosaan gadis penjual telur Sum Kuning –di sebuah mobil di Ngampilan, Yogya, 21 September 1970– oleh 4 orang pemuda, polisi menunjukkan penyimpangan. Polisi tidak berani karena para pemuda itu adalah anak-anak perwira militer, salah satunya putra pahlawan revolusi di daerah itu, dan lainnya dari kalangan bangsawan. Polisi malah menangkap Sum Kuning yang berusia 16 tahun itu, dituduh memberikan laporan palsu dan anggota Gerwani/PKI. Polisi lalu menciptakan skenario bahwa tak terjadi perkosaan, melainkan hubungan sex suka sama suka dengan penjual bakso bernama Trimo. Nuansa rekayasa semakin terang ketika persidangan digelar tertutup. Wartawan yg menulis kasus Sum harus berurusan dengan Dandim 096. Hoegeng bertindak,

Kapolri Hoegeng Imam Santosa pun pernah merasakan godaan suap. Dia pernah dirayu seorang pengusaha cantik keturunan Makassar-Tionghoa yang terlibat kasus penyelundupan. Wanita itu meminta Hoegeng agar kasus yang dihadapinya tak dilanjutkan ke pengadilan.Wanita ini pun berusaha mengajak damai Hoegeng. Berbagai hadiah mewah dikirim ke alamat Hoegeng. Tentu saja Hoegeng menolak mentah-mentah. Hadiah ini langsung dikembalikan oleh Hoegeng, tapi si wanita tak putus asa. Dia terus mendekati Hoegeng, yang membuat Hoegeng heran, malah koleganya di kepolisian dan kejaksaan yang memintanya untuk melepaskan wanita itu. Hoegeng menjadi heran, kenapa begitu banyak pejabat yang mau menolong pengusaha wanita tersebut. Belakangan Hoegeng mendapat kabar, wanita itu tidak segan-segan tidur dengan pejabat demi memuluskan aksi penyelundupannya. Hoegeng pun hanya bisa mengelus dada prihatin menyaksikan tingkah polah koleganya yang terbuai uang dan rayuan wanita. (dikutip dari www.imigrasi.go.id)

“Kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, walaupun keluarga sendiri, kalau salah tetap kita tindak” tegas Hoegeng (Polisi dan Menteri Teladan:95).

Kasus lainnya yang menghebohkan adalah penyelundupan mobil-mobil mewah bernilai Rp 716 juta oleh Robby Tjah Jadi. Berkat jaminan, pengusaha ini hanya beberapa jam mendekam di tahanan. Sungguh berkuasanya si penjamin sampai Kejaksaan Jakarta Raya pun memeti eskan kasus ini. Hoegeng tak gentar dikasus penyelundupan mobil mewah berikutnya, Robby tak berkutik. Pejabat yg terbukti menerima sogokan ditahan. Rumor yg santer, gara-gara membongkar kasus ini pula yg menyebabkan Hoegeng dipensiunkan pada 2 Oktober 1971 dari jabatan Kapolri. Kasus ini ternyata melibatkan sejumlah pejabat dan perwira tinggi ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Ia diperangkap untuk terlibat proyek pabrik helm dan karenanya menjadi bulan-bulanan serangan karena pada waktu yang bersamaan ia menetapkan kewajiban penggunaan helm bagi pengendara sepeda motor.

Kasus inilah yang kemudian santer diduga sebagai penyebab pencopotan Hoegeng oleh Presiden Indonesia, Soeharto. Hoegeng dipensiunkan oleh Soeharto pada usia 49 tahun, di saat ia sedang melakukan pembersihan di jajaran kepolisian. Kabar pencopotan itu diterima Hoegeng secara mendadak. Kemudian Hoegeng ditawarkan Soeharto untuk menjadi duta besar di sebuah Negara di Eropa, namun ia menolak. Alasannya karena ia seorang polisi dan bukan politisi.

“Begitu dipensiunkan, bapak kemudian mengabarkan pada ibunya. Dan ibunya hanya berpesan, selesaikan tugas dengan kejujuran. Karena kita masih bisa makan nasi dengan garam,” ujar Meri, “Dan kata-kata itulah yang menguatkan saya,” tambahnya saat menjadi bintang tamu di Acara Kick Andy

Sebelumnya, suatu hari ia dipanggil Soeharto mengahadap ke Istana. Tepat di depan pintu ia melihat presiden sedang bercengkrama dengan bos mafia (RC). Hoegeng marah. Bagaimana mungkin orang yang mengobrak abrik tatanan negara bisa leluasa keluar masuk istana, bahkan terlihat asyik bersenda gurau. Nuraninya yang sehat tercabik-cabik. Di fase akhir hidupnya ia tetap tegar meski dikucilkan. Hoegeng memilih bergabung dalam petisi ‘50 yang berusaha mengingatkan pemerintah yang dinilai salah langkah.

Hoegeng memang seorang yang sederhana, ia mengajarkan pada istri dan anak-anaknya arti disiplin dan kejujuran. Semua keluarga dilarang untuk menggunakan berbagai fasilitas sebagai anak seorang Kapolri. Pensiun tanpa memiliki rumah, kendaraan, maupun barang mewah. Rumah dinas menjadi milik Hoegeng atas pemberian dari Kepolisian. Beberapa Kapolda patungan membeli mobil Kingswood, yang kemudian menjadi satu-satunya mobil yang dimiliki. Tak heran kebiasaan Hoegeng terekam dengan baik. Misalnya, dia tak mau dikawal dan tidak mau mengambil jatah beras. Pribadi Hoegeng ini membuat rikuh para kolega, apalagi anak buahnya, karena perilakunya lurus dan antikorupsi

Hoegeng wafat di usianya ke 82 tahun, pada 14 Juli 2004. Kisah hidup Hoegeng memang seperti dongeng saat ini. Aneh dan hampir mustahil. Nalar seperti ini wajar karena kita hidup dibelantara manusia yang hanya bisa memandang kemewahan. Namun bisa jadi tidak aneh bila di hati kita masih ada kewarasan akal. Akal bisa waras bila dipelihara dengan baik. Menghargai orang dari peran kebaikan, ilmu dan moralitasnya. Memandang hidup bukan hanya yang ada di depan mata dan saat ini saja. Atas semua pengabdiannya kepada negara, Hoegeng Imam Santoso telah menerima sejumlah tanda jasa, diantaranya: (dikutip dari wikipedia.org)
  1. Bintang Gerilya
  2. Bintang Dharma
  3. Bintang Bhayangkara I
  4. Bintang Kartika Eka Paksi I
  5. Bintang Jalasena I
  6. Bintang Swa Buana Paksa I
  7. Satya Lencana Sapta Marga
  8. Satya Lencana Perang Kemerdekaan (I dan II)
  9. Satya Lencana Peringatan Kemerdekaan
  10. Satya Lencana Prasetya Pancawarsa
  11. Satya Lencana Dasa Warsa
  12. Satya Lencana GOM I
  13. Satya Lencana Yana Utama
  14. Satya Lencana Penegak

Sosok Hoegeng memunculkan anekdot canda gurau dari Presiden ke-4 Indonesia, Abdurrahman Wahid atau sering disapa Gus Dur. Ia mengatakan di negeri ini hanya ada tiga polisi yang jujur. Pertama patung polisi, kedua polisi tidur, dan ketiga polisi Hoegeng. Ada kehidupan setelah kehidupan, kini Hoegeng Imam Santoso menjadi teladan bagi seluruh rakyat indonesia khususnya, para pejabat pemerintahan dan ‘jarang Tuhan ciptakan orang seperti dia’. (Calam Rahmat)

Share:

Pegiat Literasi Kota Bandung Tolak Pemberangusan Buku

Bandung, (KHO) - Sejumlah perwakilan dari para pegiat literasi, seniman, aktivis budaya dan pelaku komunitas kreatif Kota Bandung hadir dalam "Pernyataan Sikap Bandung Terhadap Pemberangusan Buku dan Kebebasan Berekspresi" di GEdung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Selasa (17/5).

Dalam rangkaian kegiatannya semua orang yang hadir akan membubuhkan tanda tangan sebagai bentuk dukungan dan pernyataan sikap atau maklumat terkait pemberangusan buku, termasuk buku berhaluan 'kiri' dan kebebasan berekspres.

Dalam maklumat tersebut mereka mendesak aparat kepolisan dan militer menghentikan intimidasi dan pemberangusan terhadap buku, diskusi buku, dan aktivitas literasi lainnya. Selain itu,  mereka mendesak aparat kepolisan dan militer menghentikan pembiaran atas perbuatan organisasi massa intoleran yang mengancam kebebasan bereskpresi.

Selain itu, massa yang hadir mendesak kesungguhan pemerintah saat ini untuk menjalankan kewajibannya melaksanakan UUD, demi mencerdaskan kehidupan bangsa dan budaya demokrasi melalui kehidupan dunia literasi yang sehat. Serta mendesak para pembesar dijajaran pemerintahan untuk berhenti mengeluarkan pernyataan yang kontra produktif bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

Termasuk melindungi hak-hak warga negara dalam kebebasan berekspresi. Menyerukan kepada para pemangku kepentingan dalam perbukuan nasional (para penulis, penerbit, penerjemah, penyunting, penjual buku, pembaca, pegiat literasi) dan masyarakat luas untuk bersatu menolak pemberangusan buku dan kebebasan berekspresi.
Share:

Surabaya Samator Tundukan Jakarta BNI Taplus

Bandung, (KHO) - Tim putra Surabaya Samator keluar sebagai juara usai menundukan putra Jakarta BNI Taplus dengan skor 0-3, di Istora Senayan, Jakarta, dalam pertandingan final kompetisi bola voli Pertamina Proliga 2016, Minggu (15/5) siang. Gelar juara ini yang kelima untuk mereka, setelah terakhir kali juara pada 2014 lalu.

Mengususng target yang serupa, kedua tim turun dengan para pemain terbaiknya. Alhasil permainan berlangsung sangat sengit di awal babak pertama. Rapatnya blok dari pemain Samator, berhasil mematahkan serangan BNI Taplus. Surabaya Samator menutup babak pertama dengan kemengan 18-25 atas BNI Taplus.

Dibabak kedua, dominasi permainan Surabaya Samator dibabak pertama berhasil diredam BNI Taplus. Namun, walaupun saling serang denga sems keras, BNI taplus beum berhasil mengimbangi permainan Surabaya Samator. Surabaya Samator menutup babak kedua dengan kemenangan 22-25.

Di set ketiga, BNI Taplus memanas. Kesalahan Felipe yang gagal serve membuat tim lawan mendapat angka pertama, 2-1. Felipe kembali gagal serve sebelum digantikan oleh Adi. Pertandingan berjalan ketat hingga set poin.

Di kubu BNI Taplus, smes keras Paulo terus menembus pertahanan Surabaya Samator, begitu pula dengan Dimas dan Sigit. Sementara di kubu Surabaya Samator, Toiran benar-benar dominan dengan spike kerasnya dan beberapa blok. Pertunjukan jumping serve pun sempat diperlihatkan Rendy Tamamilang yang langsung menghasilkan angka.

Jakarta BNI Taplus terus memberikan perlawanan ketat hingga angka set point 22-24. Namun spike Toiran yang gagal diantisipasi recieve pemain BNI Taplus menutup pertandingan dan membawa Samator meraih angka 22-25 sekaligus memastikan tim Surabaya itu meraih juara Proliga 2016 untuk kelima kalinya.

Sebagai tim juara, Samator berhak menggondol hadiah uang tunai sebesar Rp 200 juta dan Rp 5 juta diberikan untuk Ibarsjah yang juga dinobatkan sebagai pelatih terbaik. Pemain terbaik dalam kompetisi ini jatuh pada spiker 20 tahun Samator, Rivan Nur Mulki.


Share: