Situs Terpercaya Kabar Harian

Jarang Tuhan Ciptakan Orang Seperti Dia

"Polisi jangan sampai menjadi momok bagi masyarakat"

Jendral Polisi Hoegeng Iman Santoso. (buku Museum Polri 2009).

Drs. Hoegeng Imam Santoso merupakan putra sulung dari pasangan Soekario Kario Hatmodjo dan Oemi Kalsoem. Lahir pada 14 Oktober 1921 di Kota Pekalongan. Meskipun berasal dari keluarga priayi, namun perilaku Hoegeng kecil sama sekali tidak menunjukkan keangkuhan. Bahkan ia banyak bergaul dengan anak-anak dari lingkungan biasa. Hoegeng sama sekali tidak pernah mempermasalahkan ningrat atau tidaknya seseorang dalam bergaul.

Dalam perjalanannya Hoegeng dikenal sosok yang jujur dan amanah. Ia dianggap orang yang paling jujur diantara pejabat tinggi di pemerintahan saat itu. Tidak pernah memiliki rumah tetap memperlihatkan sisi kesederhanaannya, walaupun ia memegang salah satu jabatan tinggi di pemerintahan. Keteladanan Hoegeng bukan hanya menjadi sosok yang dikagumi saat ini, namun menjadi cerminan diri bagi institusi yang dulu pernah Hoegeng singgahi.

Mendapat amanah menjabat diberbagai instansi tak lantas menjadikan Hoegeng berbalik memanfaatkan statusnya dalam jabatan tersebut. Memasuki masa pensiun Hoegeng menghabiskan waktu dengan menekuni hobinya sejak remaja, yakni bermain musik Hawaiian-alat musik khas Maluku- dan melukis. Lukisan itu lah yang kemudian menjadi sumber kehidupan keluarganya. Jauh sebelum itu beberapa jabatan yang di sandang Hoegeng seperti tahun 1950, setelah Hoegeng mengikuti Kursus Orientasi di Provost Marshal General School pada Military Police School Port Gordon, George, Amerika Serikat. Disitulah, Hoegeng mulai dipercaya untuk menduduki jabatan penting di dalam sebuah intitusi.

Menjabat Kepala DPKN (Dinas Pengawasan Keamanan Negara) Kantor Polisi Jawa Timur di Surabaya 1952. Menjadi Kepala Bagian Reserse Kriminal Kantor Polisi Sumatera Utara 1956 di Medan. Tahun 1959, mengikuti pendidikan Pendidikan Brimob dan menjadi seorang Staf Direktorat II Mabes Kepolisian Negara 1960, Kepala Jawatan Imigrasi 1960, Menteri Iuran Negara 1965, dan menjadi Menteri Sekretaris Kabinet Inti tahun 1966. Setelah Hoegeng pindah ke Markas Kepolisian Negara kariernya terus menanjak. Di situ, dia menjabat Deputi Operasi Pangak tahun 1966, dan Deputi Men/Pangak Urusan Operasi ditahun yang sama.

Hoegeng tidak menjadikannya sebagai aji mumpung meskipun telah menjadi pemimpin dan pejabat negara. Dia tidak memanfaatkan jabatannya untuk memberi surat izin bagi putranya menjadi taruna ABRI ketika itu, atau kemudahan bagi putrinya untuk sekadar lolos di Perguruan Tinggi Negeri dengan fasilitas jabatannya. Hingga wafatnya pada 14 Juli 2004, Hoegeng tidak memiliki rekening gendut. Ia hanya memiliki uang pensiun. Seperti yang dilansir Kompasiana.com pensiunan Hoegeng hingga 2001 hanya sebesar Rp.10.000 saja, itu pun hanya diterima sebesar Rp.7500! Selanjutnya menurut pengakuan putranya Aditya, di acara Kick Andy, pada 2001 gaji pensiunan Hoegeng menjadi Rp.1.170.000, jauh berbeda dengan gaji pensiuan pejabat saat ini.

Sang istri, Meriyati Roeslani (Meri), memiliki pengertian yang luar biasa akan prinsip hidup suaminya. Saat Hoegeng menjabat sebagai Kapolri, ia tak mengizinkan istrinya menjadi Ketua Umum Bhayangkari, yang biasa dijabat istri Kapolri.

Hoegeng berkata kepada istrinya, "Hoegeng ini komandan polisi di Indonesia, tetapi Meri bukan komandan dari istri-istri para polisi," (Polisi dan Menteri Teladan:91). Selain itu anak kedua Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng, tak pernah merasakan fasilitas negara (Polisi dan Menteri Teladan:72). “Bahkan anak-anak tak berani untuk meminta sebuah sepeda pun” kata Merry di Acara Kick Andy.

Kecintaan dan dedikasinya terhadap pekerjaan menempa dirinya menjadi seorang pelayan masyarakat yang tanpa pamrih. Dalam menegakkan hukum hampir tidak memiliki hambatan persolan apapun berupa harapan kenaikan jabatan, kekayaan, maupun kemahsyuran.


Jabatan Tak Membuat Ia ‘Tegak’

Akhirnya Hoegeng diberi amanah menjadi Pangak kelima. Ia tak berubah. Tegas, disiplin, jujur dan sederhana. Ia bertekad membabat rumput-rumput liar yang mengotori negara. Banyak hal yang dilakukan Hoegeng selama ia menjabat sebagai Pangak-sebutan Kapolri saat itu- dari 1968-1971. Seperti dikutip dari buku Museum Polri 2009, Hoegeng melakukan pembenahan beberapa bidang yang menyangkut struktur organisasi di tingkat Mabes Polri. Hasilnya, struktur yang baru terkesan lebih dinamis dan komunikatif.

Selama kepemimpinan Hoegeng, banyak hal terjadi dalam tubuh internal Kepolisian Republik Indonesia. Langkah pertamanya adalah pembenahan beberapa bidang yang menyangkut struktur organisasi. Hasilnya, struktur baru yang lebih dinamis dan komunikatif. Langkah kedua, perubahan nama pimpinan polisi dan markas besarnya. Sebutan AKRI (Angkatan Kepolisian Republik Indonesia) diubah menjadi Polri (Kepolisian Negara Republik Indonesia). Selain itu sebutan Pangak (Panglima Angkatan Kepolisian RI) diubah menjadi Kapolri (Kepala Kepolisian RI) dan nama Markas Besar Angkatan Kepolisian pun berubah menjadi Markas Besar Kepolisian. Di bawah kepemimpinan Hoegeng peran serta Polri dalam peta organisasi Polisi Internasional, ICPO (International Criminal Police Organization), semakin aktif. Hal itu ditandai dengan dibukanya Sekretariat NCB (National Central Bureau) Interpol di Jakarta.

Perjalanan ‘sang maestro’ teladan lantas tak semudah air dalam sekat ruang kosong. Berbagai permasalahan datang menerpa keteguhan Hoegeng didalam karirnya. Berbagai spekulasi bertebaran atas segala perilaku dan keputusan yang diambil Hoegeng saat itu. Seperti dikutip dari socio-politica.com, adanya peristiwa 6 Oktober 1970. Dalam Peristiwa 6 Oktober 1970, polisi salah menyeret terdakwa pembunuh. Bripda Djani Maman Surjaman dijadikan kambing hitam, diadili dan dihukum penjara. Ahli forensik dan balistik memastikan Rene tertembak dengan senjata laras pendek, sedangkan Djani memegang senjata laras panjang Karl Gustav saat bertugas melerai pengeroyokan Rene oleh Taruna Akabri Kepolisian yang akan segera lulus sebagai Angkatan 1970.

Ketika peristiwa terjadi, yang diketahui membawa pistol (senjata laras pendek) hanyalah para Taruna. Para Taruna yang terlibat –beberapa adalah putera perwira tinggi polisi– tak berhasil diajukan ke mahkamah militer di masa Hoegeng. Sementara dalam kasus pemerkosaan gadis penjual telur Sum Kuning –di sebuah mobil di Ngampilan, Yogya, 21 September 1970– oleh 4 orang pemuda, polisi menunjukkan penyimpangan. Polisi tidak berani karena para pemuda itu adalah anak-anak perwira militer, salah satunya putra pahlawan revolusi di daerah itu, dan lainnya dari kalangan bangsawan. Polisi malah menangkap Sum Kuning yang berusia 16 tahun itu, dituduh memberikan laporan palsu dan anggota Gerwani/PKI. Polisi lalu menciptakan skenario bahwa tak terjadi perkosaan, melainkan hubungan sex suka sama suka dengan penjual bakso bernama Trimo. Nuansa rekayasa semakin terang ketika persidangan digelar tertutup. Wartawan yg menulis kasus Sum harus berurusan dengan Dandim 096. Hoegeng bertindak,

Kapolri Hoegeng Imam Santosa pun pernah merasakan godaan suap. Dia pernah dirayu seorang pengusaha cantik keturunan Makassar-Tionghoa yang terlibat kasus penyelundupan. Wanita itu meminta Hoegeng agar kasus yang dihadapinya tak dilanjutkan ke pengadilan.Wanita ini pun berusaha mengajak damai Hoegeng. Berbagai hadiah mewah dikirim ke alamat Hoegeng. Tentu saja Hoegeng menolak mentah-mentah. Hadiah ini langsung dikembalikan oleh Hoegeng, tapi si wanita tak putus asa. Dia terus mendekati Hoegeng, yang membuat Hoegeng heran, malah koleganya di kepolisian dan kejaksaan yang memintanya untuk melepaskan wanita itu. Hoegeng menjadi heran, kenapa begitu banyak pejabat yang mau menolong pengusaha wanita tersebut. Belakangan Hoegeng mendapat kabar, wanita itu tidak segan-segan tidur dengan pejabat demi memuluskan aksi penyelundupannya. Hoegeng pun hanya bisa mengelus dada prihatin menyaksikan tingkah polah koleganya yang terbuai uang dan rayuan wanita. (dikutip dari www.imigrasi.go.id)

“Kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, walaupun keluarga sendiri, kalau salah tetap kita tindak” tegas Hoegeng (Polisi dan Menteri Teladan:95).

Kasus lainnya yang menghebohkan adalah penyelundupan mobil-mobil mewah bernilai Rp 716 juta oleh Robby Tjah Jadi. Berkat jaminan, pengusaha ini hanya beberapa jam mendekam di tahanan. Sungguh berkuasanya si penjamin sampai Kejaksaan Jakarta Raya pun memeti eskan kasus ini. Hoegeng tak gentar dikasus penyelundupan mobil mewah berikutnya, Robby tak berkutik. Pejabat yg terbukti menerima sogokan ditahan. Rumor yg santer, gara-gara membongkar kasus ini pula yg menyebabkan Hoegeng dipensiunkan pada 2 Oktober 1971 dari jabatan Kapolri. Kasus ini ternyata melibatkan sejumlah pejabat dan perwira tinggi ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Ia diperangkap untuk terlibat proyek pabrik helm dan karenanya menjadi bulan-bulanan serangan karena pada waktu yang bersamaan ia menetapkan kewajiban penggunaan helm bagi pengendara sepeda motor.

Kasus inilah yang kemudian santer diduga sebagai penyebab pencopotan Hoegeng oleh Presiden Indonesia, Soeharto. Hoegeng dipensiunkan oleh Soeharto pada usia 49 tahun, di saat ia sedang melakukan pembersihan di jajaran kepolisian. Kabar pencopotan itu diterima Hoegeng secara mendadak. Kemudian Hoegeng ditawarkan Soeharto untuk menjadi duta besar di sebuah Negara di Eropa, namun ia menolak. Alasannya karena ia seorang polisi dan bukan politisi.

“Begitu dipensiunkan, bapak kemudian mengabarkan pada ibunya. Dan ibunya hanya berpesan, selesaikan tugas dengan kejujuran. Karena kita masih bisa makan nasi dengan garam,” ujar Meri, “Dan kata-kata itulah yang menguatkan saya,” tambahnya saat menjadi bintang tamu di Acara Kick Andy

Sebelumnya, suatu hari ia dipanggil Soeharto mengahadap ke Istana. Tepat di depan pintu ia melihat presiden sedang bercengkrama dengan bos mafia (RC). Hoegeng marah. Bagaimana mungkin orang yang mengobrak abrik tatanan negara bisa leluasa keluar masuk istana, bahkan terlihat asyik bersenda gurau. Nuraninya yang sehat tercabik-cabik. Di fase akhir hidupnya ia tetap tegar meski dikucilkan. Hoegeng memilih bergabung dalam petisi ‘50 yang berusaha mengingatkan pemerintah yang dinilai salah langkah.

Hoegeng memang seorang yang sederhana, ia mengajarkan pada istri dan anak-anaknya arti disiplin dan kejujuran. Semua keluarga dilarang untuk menggunakan berbagai fasilitas sebagai anak seorang Kapolri. Pensiun tanpa memiliki rumah, kendaraan, maupun barang mewah. Rumah dinas menjadi milik Hoegeng atas pemberian dari Kepolisian. Beberapa Kapolda patungan membeli mobil Kingswood, yang kemudian menjadi satu-satunya mobil yang dimiliki. Tak heran kebiasaan Hoegeng terekam dengan baik. Misalnya, dia tak mau dikawal dan tidak mau mengambil jatah beras. Pribadi Hoegeng ini membuat rikuh para kolega, apalagi anak buahnya, karena perilakunya lurus dan antikorupsi

Hoegeng wafat di usianya ke 82 tahun, pada 14 Juli 2004. Kisah hidup Hoegeng memang seperti dongeng saat ini. Aneh dan hampir mustahil. Nalar seperti ini wajar karena kita hidup dibelantara manusia yang hanya bisa memandang kemewahan. Namun bisa jadi tidak aneh bila di hati kita masih ada kewarasan akal. Akal bisa waras bila dipelihara dengan baik. Menghargai orang dari peran kebaikan, ilmu dan moralitasnya. Memandang hidup bukan hanya yang ada di depan mata dan saat ini saja. Atas semua pengabdiannya kepada negara, Hoegeng Imam Santoso telah menerima sejumlah tanda jasa, diantaranya: (dikutip dari wikipedia.org)
  1. Bintang Gerilya
  2. Bintang Dharma
  3. Bintang Bhayangkara I
  4. Bintang Kartika Eka Paksi I
  5. Bintang Jalasena I
  6. Bintang Swa Buana Paksa I
  7. Satya Lencana Sapta Marga
  8. Satya Lencana Perang Kemerdekaan (I dan II)
  9. Satya Lencana Peringatan Kemerdekaan
  10. Satya Lencana Prasetya Pancawarsa
  11. Satya Lencana Dasa Warsa
  12. Satya Lencana GOM I
  13. Satya Lencana Yana Utama
  14. Satya Lencana Penegak

Sosok Hoegeng memunculkan anekdot canda gurau dari Presiden ke-4 Indonesia, Abdurrahman Wahid atau sering disapa Gus Dur. Ia mengatakan di negeri ini hanya ada tiga polisi yang jujur. Pertama patung polisi, kedua polisi tidur, dan ketiga polisi Hoegeng. Ada kehidupan setelah kehidupan, kini Hoegeng Imam Santoso menjadi teladan bagi seluruh rakyat indonesia khususnya, para pejabat pemerintahan dan ‘jarang Tuhan ciptakan orang seperti dia’. (Calam Rahmat)

Share: